Validasi Kurikulum … perlukah?

Pemikiran atau pandangan yang berkembang di lingkungan masyarakat terhadap pendidikan tinggi setingkat diploma (D III) saat ini masih menempatkan pendidikan diploma sebagai alternatif kedua setelah pendidikan tinggi universitas. Peminatnya pun rata-rata datang dari golongan masyarakat menengah atau bahkan menengah ke bawah. Alasan mereka memilih pendidikan tinggi setingkat diploma karena institusi diploma memberikan keterampilan yang sesuai dengan program keahliannya masing-masing, sehingga harapannya adalah setelah menyelesaikan pendidikannya akan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keahlian yang dimilikinya.
Anggapan masyarakat tentang pendidikan tinggi setingkat diploma yang “hanya” sebagai pilihan alternatif tampaknya akan berubah dengan dikeluarkannya kebijakan-kebijakan pemerintah untuk lebih mengembangkan pendidikan yang berbasic vokasi.
Upaya yang dilakukan oleh pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan dalam mengembangkan pendidikan tinggi diploma di antaranya memberikan informasi tentang pendidikan vokasi kepada masyarakat dengan melakukan promosi melalui media cetak maupun media elektronika. Selain itu, melakukan kerja sama dengan institusi pasangan sebagai pengguna lulusan untuk menyalurkan lulusannya guna mengisi peluang kerja sesuai dengan bidangnya. Bahkan, beberapa pendidikan tinggi diploma telah menempuh kerja sama dengan beberapa industri dan pengguna lulusan dalam menyalurkan lulusan yang biasanya dijembatani oleh BKK (bursa kerja khusus) yang dikelola oleh pihak humas sebuah institusi pendidikan.
Untuk bisa mengisi peluang kerja, apalagi dengan semakin terbukanya peluang kerja global, perlu dipersiapkan lulusan yang memiliki kualitas dan kuantitas yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Salah satunya dengan melaksanakan validasi kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU Sisdiknas). Pengembangan kurikulum dapat dilakukan dengan cara melakukan validasi terhadap kurikulum yang sudah ada. Validasi kurikulum adalah penyusunan kurikulum bersama antara institusi pendidikan dengan institusi pasangan. Kegiatan ini dianggap lebih efektif dan efisien karena kurikulum yang dihasilkan akan dilaksanakan di institusi pendidikan dan sudah sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan dari pengguna lulusan atau institusi pasangan. Apa yang dipelajari oleh peserta didik atau pebelajar selama belajar akan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan di lingkungan kerja sehingga diharapkan semua lulusan dapat mengisi lapangan kerja yang ada. Validasi kurikulum sebaiknya dilaksanakan secara terencana, terprogram, dan berkelanjutan untuk mengetahui perkembangan-perkembangan yang terjadi di lingkungan kerja.
Dengan mengundang sejumlah para praktisi yang berkompeten dari institusi pasangan dan fasilitator dari Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang maka pihak Institusi Pendidikan Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang akan dapat mengetahui dan dapat memprediksikan kecakapan hidup apa saja (kompetensi) yang harus dimiliki dan dikuasai oleh pebelajar agar dapat mengisi peluang kerja. Kecakapan hidup atau sering disebut dengan life skill yang harus dimiliki oleh seorang lulusan ahli madya meliputi antara lain kecakapan hidup spesifik yaitu kecakapan akademik dan kecakapan vokasional atau yang sesuai dengan program keahlian serta kecakapan generik yaitu kecakapan personal dan kecakapan sosial.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang akan menyelenggarakan Kegiatan Validasi Kurikulum. Harapannya adalah kecakapan hidup yang dimiliki oleh seorang Ahli Madya Farmasi hasil dari mengikuti proses pembelajaran di Institusi Pendidikan Farmasi Putra Indonesia Malang sudah tidak diragukan lagi, karena apa yang dipelajari selama di kampus sudah sesuai dengan yang dituntut oleh dunia kerja, dan setiap lulusannya memiliki kemampuan untuk mengisi lapangan kerja di masa kini dan di masa yang akan datang.

2 Comments

  1. Nambah dikit ya bos…
    Dalam validasi kurikulum tempo hari, selain kurikulumnya match dg dunia kerja, juga supaya kurikulum itu mampu melahirkan insan-insan yang memiliki kemampuan belajar sepanjang hidup, bisa hidup bersama orang laen dan bisa mengaktualisasikan diri.

    Thanks.

  2. halo pak bilal…
    mm…betul pak…validasi kurikulum..memang harus sering kali dirubah. ketika hendak memvalid, maka harus dilakukan survei sehingga kurikulum yang akan di valid benar – benar sudah sesuai dengan apa yang diminta oleh dunia kerja tanpa meninggalkan sifat keilmuan dari institusi pendidikan itu sendiri. karena pada dasarnya kurikulum inilah yang akan membawa setiap insan mahasiswa merasa mampu atau tidak untuk diterima dalam dunia kerja tanpa meninggalkan etika ( baik etika moral maupaun profesinya).
    intinya: validasi kurikulum harus benar benar dipikirkan sebelum melakukan proses valid!!!

    thanks;
    dari Dony (alumnus SMF PI 1997, mahasiswa ISTN prodi Farmasi ISTN jakarta)


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s