Konsep PAKEM … menghasilkan sesuatu?

PAKEM merupakan singkatan dari pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

Masih banyak dosen yang melakukan proses belajar mengajar dengan “hanya” memikirkan bagaimana mahasiswanya bisa mengerti apa yang telah ditulis di papan tulis atau slide yang merupakan hasil rangkuman dari “sebuah” buku kemudian diterangkan. Isi pengetahuannya juga “hanya” diambil dari “sebuah” buku. Mahasiswa hanyalah menerima kucuran pengetahuan yang diberikan oleh dosennya, begitulah gambaran proses belajar mengajar “jadul”.
Fenomena proses belajar mengajar seperti diatas tidak memberdayakan mahasiswa. Mahasiswa hanyalah sebagai obyek bukan subyek. Seharusnya mahasiswa menjadi subyek yang dapat menentukan sendiri keberhasilannya dalam belajar, istilahnya adalah student centered. Bukankah yang belajar adalah mahasiswanya? bukan dosennya!. Dosen adalah seorang fasilitator yang tugasnya adalah mengarahkan, memudahkan, atau membantu mahasiswa dalam belajar.
Untuk mengatasi hal tersebut maka dalam dunia pembelajaran diperkenalkan istilah PAKEM. Dalam proses pembelajaran ini mahasiswa diajak untuk berperan aktif dan kreatif. Sedangkan fasilitator harus membuat proses pembelajaran yang seefektif mungkin dan menyenangkan bagi mahasiswanya.
Penjelasan mengenai konsep PAKEM adalah sebagai berikut :
Aktif, belajar memang seharusnya adalah sebuah proses belajar aktif dari seorang mahasiswa. Mahasiswa bertanya kepada dosen tentang sesuatu hal yang belum dipahaminya merupakan suatu proses berpikir aktif dari otaknya. Mahasiswa bertanya pada dirinya sendiri (mengapa begini-mengapa begitu) yang akhirnya dapat memacu untuk mencari jawabannya sendiri. Mahasiswa mengemukakan gagasannya merupakan proses berpikir aktif mulai dari pertanyaan yang ada diotaknya sampai dengan hasil analisisnya. Inilah yang dikatakan proses belajar aktif dari mahasiswa. Seorang fasilitator harus dapat memfasilitasi kalau seandainya ada mahasiswa yang berperan secara aktif dalam proses pembelajaran.
Kreatif, dari pembelajaran yang melibatkan mahasiswanya secara aktif dapat memacu terbentuknya suatu komunitas yang kreatif karena sudah terbiasa dengan pencarian sebuah makna yang digagas oleh mahasiswa sendiri dengan panduan seorang fasilitator. Sedangkan untuk fasilitator juga dituntut harus kreatif dalam membuat sebuah proses belajar mengajar yang dapat diikuti oleh semua tingkatan kemampuan yang dimiliki oleh mahasiswanya.
Efektif, fasilitator harus terbiasa memberitahukan tujuan dari sebuah proses belajar mengajar yang akan dilaksanakan, sekaligus maknanya bagi mahasiswa yang akan mengikuti proses belajar mengajar tersebut. Kalau sudah terbiasa membicarakan tentang tujuan pembelajaran maka sekali waktu mahasiswa diminta untuk mencari sendiri makna dari diadakannya pembelajaran tersebut. Kalau, sekali lagi kalau, hal itu terbiasa dilakukan oleh fasilitator, biasanya mahasiswa akan mengerti dengan sendirinya makna dari sebuah proses pembelajaran yang akan dilangsungkan hanya dari mengetahui tujuan pembelajarannya saja. Apabila tujuan pembelajaran dilontarkan dan mahasiswa dapat mencari sendiri makna pembelajarannya maka mahasiswa akan termotivasi untuk mencapai tujuan dari sebuah pembelajaran tanpa harus dikomando terlebih dahulu.
Menyenangkan, fasilitator harus dapat menciptakan kondisi pembelajaran sedemikian rupa sehingga mahasiswa merasa tidak ada yang tertekan, malah sebaliknya akan menginginkan terjadinya proses belajar mengajar secara aktif. Fasilitator dapat menciptakan suasana belajar seperti itu dengan bantuan aktif mahasiswa. Apabila kondisi menyenangkan terjadi, diharapkan konsentrasi mahasiswa hanya terpusat pada proses belajar mengajar saja atau hal-hal yang berhubungan dengan pembelajaran saja. Diharapkan dari pembelajaran yang menyenangkan ini dapat meningkatkan pemaknaan belajar seorang mahasiswa.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam proses belajar mengajar hendaknya seorang fasilitator melibatkan mahasiswanya secara aktif dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan yang sudah ada dalam otaknya melalui penekanan bahwa belajar yang baik dan benar adalah dengan cara berbuat sesuatu untuk menghasilkan sesuatu.
Terakhir yang perlu diingat kembali oleh all of us adalah sudahkah kita berbuat sesuatu untuk menghasilkan sesuatu? Jangan bertanya pada rumput yang bergoyang!

1 Comment

  1. aloo pak bilal, rasanya seneng neh liat blognya….. jadi pengobat kangen “putra indonesia”..
    tulisannya itu lho bikin menarik…..PAKEM…mmmm, mungkin menarik ya…kalo boleh aku berbagi pak, di tempat saya belajar sekarang, kita memakai prinsip SCL (student Center learning) dimana ..mahasiswa sebagai pusat belajar tidak hanya dosen yang jadi pusat belajar… jadi selain ceramah dengan dosen, kita diminta juga untuk memPRESENTASIKAN materi yang akan dibahas…nah abis itu temen temen mahasiwa lainnya pada suka bertanya…kalo kira kira presentasi kita mengenai materi tersebut dirasa kurang atau tidak lengkap…barulah dosen menjelaskan kembali.. jadi setiap kita pertemuan, kita presentasi terelbih dahulu….
    manfaat yang dirasakan banyak sekali: diantaranya kita jadi berani berkomunikasi didepan banyak orang yang terkadang pertanyaan -pertanyaannya tidak kita duga….
    disisi lain mengajar dengan sisitem “JADUL” dirasa perlu juga….

    thx
    dony
    alumnus SMF PI 1997 (mahasiwa program studi Farmasi ISTN Jakarta, employee Global Assitance Healthcare International Jakarta, Indonesia)


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s