Menulis … mudahkah?

Setiap kita hendak menulis haruslah selalu ingat “mengapa kita menulis?”. Niat hati kita dalam menentukan tujuan menulis adalah hal penting yang tidak boleh dilupakan dalam menulis. Bukannya malah dipusingkan oleh teknik, keindahan bahasa, plot, dan lain sebagainya tetapi intinya yaitu isi dari apa yang kita tulis itulah yang akan abadi dikenang oleh pembaca.


Untuk para (calon) penulis pemula (seperti saya), tidak usah bingung dengan segala macam teori atau kaidah yang bisa membatasi kita dalam menulis. Ada dua tahapan yang harus kita lalui. Pertama, menuliskannya terlebih dahulu dengan hati. Setelah itu baru tahap kedua, membaca dan membacanya lagi dengan menggunakan pikiran. Segala macam teori tentang menulis yang kita baca di buku-buku panduan bisa kita terapkan pada tahapan kedua ini.
Ya, menulis dengan hati adalah membiasakan diri kita seperti menulis buku harian. Tumpahkan semua yang ada di hati kita. Jangan batasi gelombang kata-kata yang akan tumpah dari pikiran kita, biarkan saja kata-kata itu tumpah ruah menyelimuti ruang kertas / komputer kita. Biarkan itu memenuhi baris demi baris di lembaran / layar kerja kita. Jangan pernah ada rasa takut. Kita hanya perlu mengaturnya saja. Misalnya, apa yang akan kita tulis? tentang sahabat? maka tuliskanlah.
Supaya tidak menghabiskan waktu, energi, dan pikiran, tentu harus tahu apa yang hendak dituliskan. Ini terkait bahwa memperoleh ide itu tidaklah gampang, tapi juga tidak terlalu sulit. Tapi jangan kuatir, ada cara mudah untuk menemukan sebuah ide, yaitu dengan melakukan riset. Riset bisa dilakukan dengan terjun ke lapangan (field research) untuk melakukan observasi atau di rumah saja (desk research) yaitu dengan membaca buku dan menjelajahi internet. Ini adalah cara ampuh menemukan ide.
Sekedar contoh, suatu hari, saya sedang menunggu di stasiun, wah ramai sekali. Tiba-tiba ada anak yang menawarkan untuk menyemirkan sepatu saya yang sudah lusuh. Lalu saya menemukan ide, saya meminta anak itu segera menyemir sepatu saya. Kemudian dengan model / metode jurnalistik yaitu prinsip menulis sebuah berita, 5W + 1H; when, where, why, what, who, dan how, saya mengajak anak itu mengobrol ngalor-ngidul. Hasilnya bukan main-main, bukankah yang saya lakukan ini merupakan bagian dari riset lapangan? Betapa mudahnya! Dari hal tersebut saja kita sudah dapat hasil observasi dan wawancara yang kemudian bisa disusun menjadi sebuah berita.
Mau menulis lagi tapi masih dengan suasana stasiun? Mudah saja! Amati saja tentang stasiun dan keretanya dan gunakan prinsip 5W + 1H, pasti banyak yang akan bisa tuliskan. Sekali lagi saya katakan bahwa menulis itu sangat mudah bukan?

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s